Our Blog

05 Januari 2025

7 Aturan Mendisiplinkan Anak Usia Prasekolah

7 Aturan Mendisiplinkan Anak Usia Prasekolah Anak-anak berusia 2 tahun sedang dalam tahap mempelajari aturan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Jadi, jika ia terlihat bersikap nakal, ia tidak melakukannya secara sengaja. Baik jika Anda orangtua yang disiplin, maupun jika Anda tipe orangtua yang lebih santai, tujuh aturan ini bisa diterapkan untuk membantu si kecil terbiasa disiplin sejak dini, yang akan bermanfaat baginya saat ia dewasa nanti.
1. Selalu beri penghargaan saat ia bersikap baik Sebisa mungkin, gunakan cara yang positif untuk mengarahkan anak. Misalnya saat si kecil berjalan mendekati kompor, alihkan perhatiannya dengan aktivitas lain sembari menjelaskan bahwa kompor adalah benda yang hanya boleh didekati orang dewasa. Saat anak Anda bersikap baik dan tidak bandel, pujilah ia dan beri tahu bahwa Anda senang saat ia melakukan itu.
Dengan cara ini, Anda akan membuatnya bangga setiap kali ia berlaku baik, dan ia pun akan terdorong untuk melakukan ini terus menerus.
2. Jangan buat aturan terlalu ketat Jika Anda terlalu mengaturnya dan semuanya serba tak boleh, anak malah akan menjadi takut untuk mengeksplor dirinya dan mencoba kemampuan yang baru. Tetapkan larangan hanya untuk hal-hal yang benar-benar penting saja, dan ajari dia untuk mengontrol diri serta berlaku baik di kehidupan sosial, sehingga ia bisa tetap memiliki kebebasan namun tahu batasan.
3. Ingat keterbatasan anak, dan jangan berharap berlebihan Contohnya, anak berusia 2 atau 3 tahun tidak dapat mengontrol keinginannya untuk menyentuh semua barang yang menarik baginya. Jadi sangatlah tidak realistis jika Anda berharap bahwa dia tidak akan menyentuh barang-barang di toko mainan atau di supermarket.
4. Sesuaikan hukuman dengan usianya Saat si kecil berlaku bandel, pastikan Anda menghukumnya sesuai dengan cara yang ia mengerti. Misalnya, jika Anda memberi hukuman dengan cara menyuruhnya diam di kamar tanpa mainan, jangan biarkan ia berada di sana selama lebih dari 5 menit karena setelah itu ia sudah akan lupa bahwa ia sedang dihukum.
Jika Anda lebih memilih untuk menasihatinya, pilihlah kata-kata dan logika sederhana tentang kenapa perilakunya tersebut itu salah. Jangan gunakan kalimat seperti, “Kalau mama melakukan itu kepada kamu, kamu juga tidak akan suka, kan?” Logika ini tidak dapat dipahami oleh anak usia prasekolah.
5. Jangan mengubah-ubah aturan dan hukuman Aturan yang berubah-ubah hanya akan membuat si kecil bingung. Namun tentu saja seiring perkembangan usia anak, Anda harus menerapkan aturan baru atau mengubah aturan yang lama. Misalnya, saat si kecil masih berusia 2 tahun, Anda maklum saja jika ia bermain-main dengan makanannya. Tapi setelah ia beranjak dewasa, kebiasaan ini tentu tak ingin Anda lanjutkan. Maka jelaskanlah padanya kenapa kini bermain-main dengan makanan tak lagi dibolehkan.
Baik itu aturan baru maupun aturan lama yang berubah, selalu jelaskan padanya apa alasan Anda menerapkan aturan baru tersebut.
6. Pastikan semua orang yang mengasuh anak Anda menerapkan kedisiplinan yang sama Jika ibu bilang tidak boleh, tapi ayah mengizinkan, anak Anda tentu akan bingung. Dan karena ia cerdik, ia tahu bahwa untuk dapat melakukan hal-hal yang dilarang oleh ibu, ia hanya perlu bilang, “Kata ayah boleh.” Anda dan pasangan pun secara tak sengaja jadi korban adu domba. Hal yang sama bisa terjadi pada babysitter maupun nenek, kakek, dan tante si kecil yang ikut mengasuhnya. Pastikan mereka semua tahu batasan mana saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak Anda.
7. Ingat bahwa si kecil meniru Anda Jika Anda menerapkan hidup disiplin dan teratur, anak Anda akan menyadarinya dan seiring pertumbuhannya juga akan mengikutinya. Hati-hati, karena jika Anda sering menghukumnya dengan main tangan, ia akan berpikir bahwa tak apa-apa menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan.

10 Januari 2025

Tips memilih sekolah

Dalam memilih sekolah anak, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan orangtua. Selain masalah biaya, letak sekolah, juga kemampuan anak harus menjadi hal yang dipertimbangkan. Pakar Psikologi Rosdiana Setyaningrum mengatakan, “Anak tidak memiliki kewajiban untuk memenuhi mimpi orangtua yang belum terwujud. Jadi memilih sekolah anak tidak boleh berdasarkan ambisi orangtua semata.” “Ambisi orangtua dalam menyekolahkan anak, bisa menghancurkan masa depan anak,” tambahnya. Lebih lanjut, lulusan psikologi UI ini juga menjelaskan, dalam memilih sekolah anak, hal penting yang harus diperhatikan orangtua adalah kecocokan sekolah dengan anak. Dari sistem belajar, lingkungan sekolah, hingga budaya di sekolah tersebut.

Psikolog yang akrab disapa Mbak Diana ini, membagikan beberapa tips yang bisa Parents tiru dalam memilih sekolah anak. Panduan memilih sekolah anak

Dalam memilih sekolah anak, Parents harus mempertimbangkan beberapa hal penting. Yakni sebagai berikut:

1. Faktor dalam diri anak
• Umur anak. Hindari memasukkan anak ke sekolah saat masih balita. Karena sebelum anak berusia 7 tahun, otaknya belum matang dan belum mampu belajar calistung. Jadi, tak perlu buru-buru memasukkan anak ke sekolah.
• Potensi anak. Bila anak memiliki bakat di bidang olahraga, usahakan dia masuk sekolah yang memiliki kegiatan olahraga. Agar bakatnya bisa tersalurkan.


2. Tahapan perkembangan anak
• Anak belajar bersosialisasi. Sekolah adalah tempat anak bergaul, jadi sedini mungkin ajari ia untuk bersosialisasi. Caranya, ajak anak untuk bersama teman sebayanya sebelum masuk usia sekolah.
• Anak harus dibimbing untuk mengikuti aturan sekolah. Terlalu memanjakan anak, hingga membuatnya melanggar aturan sekolah adalah hal tidak baik. Anak harus dibiasakan untuk mengikuti aturan, agar terbebas dari perilaku egois yang bisa merugikan dirinya.
• Mengembangkan kecerdasan emosi anak. Tiap anak memiliki kecerdasan berbeda-beda, juga cara belajar yang berbeda. Temukan cara belajar paling efektif pada anak. Bisa itu melalui visual, audio atau kinestetik.
• Mengenalkan anak pada olahraga dan seni. Anak harus sering menggerakkan tubuhnya, agar otaknya bisa berkembang. Olahraga dan seni harus dikenalkan padanya sedini mungkin.
Artikel terkait: Sikap disiplin salah satu pertimbangan memilih sekolah untuk anak

3. Karakter kepribadian 
Mengenali karakter anak, akan memudahkan orangtua dalam memilih sekolah anak.
• Aktif. Anak aktif harus masuk ke sekolah yang memiliki kegiatan olahraga.
• Hobi. Carilah sekolah di mana anak bisa menyalurkan hobinya.
• Percaya diri. Sekolah tempat anak membangun kepercayaan diri. Lingkungan sekolah yang ramah bisa mendukung kepercayaan dirinya.
• Senang belajar. Sistem belajar dan guru menyenangkan, bisa membuat anak betah di sekolah. Tidak ada salahnya Parents mengunjungi sekolah dan mengobrol dengan guru di sana untuk mengetahui metode mengajar dan sistem pengajaran mereka.
• Problem solving adalah kemampuan yang harus dikuasai anak. Hindari sekolah yang hanya menerapkan hafalan tanpa cara untuk menyelesaikan sebuah soal pada anak.


4. Potensi kecerdasan anak
Sebelum memilih sekolah anak, ketahui jenis kecerdasan yang dimiliki anak. Agar tidak salah memilihkan sekolah untuknya. Jangan pernah memasukkan anak yang memiliki kecerdasan di bidang bahasa ke sekolah kedokteran atau akuntansi, karena anak tidak akan sulit berprestasi.
Berikut adalah 3 potensi kecerdasan anak.
• Bahasa
• Berhitung
• Multiple intellegence
Cara belajar anak:
Auditori atau kinestetik (gerakan).
5. Keinginan orangtua vs keinginan anak
• Libatkan anak dalam memilih sekolah, agar dia merasa memiliki andil dalam masa depannya.
• Ajak anak bicara mengenai apa yang dia sukai dan tidak disukai. Juga preferensi belajarnya
• Jelaskan keinginan orangtua pada anak. Jika bisa berkompromi, maka lebih baik.
6. Cermati sistem sekolah
 aditiotantra / Pixabay
Dari sisi sekolah, ada 3 hal yang harus Parents pertimbangkan sebelum memasukkan anak ke sekolah tersebut. Yakni:
• Letak sekolah. Usahakan agar sekolah tidak terlalu jauh dari rumah, karena bisa menyulitkan anak. Waktu yang terbuang di jalan, melawan kemacetan, saat anak sekolah di tempat jauh dapat membuat anak kelelahan dan tidak fokus belajar.
• Jam belajar. Orangtua juga harus mempertimbangkan kebutuhan anak untuk bermain dan istirahat. Jam belajar terlalu panjang bisa membuat anak stres, dan membuat prestasinya menurun.
• Sistem pendidikan yang baik, akan membuat anak mencapai potensinya secara maksimal. Namun bila sebaliknya, anak malah akan terus-terusan belajar tanpa mencapai apapun. Pilih yang seimbang ya, Parents.
Artikel terkait: Kenali 4 macam kurikulum berikut ini, sebagai pertimbangan dalam memilih sekolah untuk anak
7. Dorong anak berprestasi di bidang yang ia kuasai  Seperti yang telah dibahas dalam poin sebelumnya, setiap anak memiliki kecerdasan di bidang berbeda. Jika anak dipaksa berprestasi di bidang yang bukan keahliannya, ketika gagal ia bisa merasa dirinya tidak mampu. Padahal sebenarnya ia hanya belum mengembangkan keahliannya.

Karena itu, penting bagi orangtua untuk mengetahui potensi kecerdasan anak sedini mungkin. Agar bisa mendorongnya meraih prestasi di bidang yang ia kuasai.

Bila anak memiliki prestasi sesuai kemampuannya, dia tidak akan merasa rendah diri jika memiliki kelemahan di bidang lain. Maksimalkan potensinya di bidang yang ia kuasai.
Misal, anak memiliki bakat dan kemampuan di bidang olahraga. Masukkan dia di sekolah yang memiliki kegiatan olahraga. Dan jangan merendahkannya hanya karena dia tidak mampu berprestasi di kelas. Puji dia akan prestasinya di bidang olahraga.
***
Semoga bermanfaat.